Powered by Blogger.

Popular Posts Today

Dipuji LeBron James, Allen Iverson Tersanjung

Written By Luthfie fadhillah on Thursday, October 24, 2013 | 8:53 PM





JAKARTA, KOMPAS.com - Mantan pemain Philadelphia 76ers, Allen Iverson, tersanjung ketika mendapat pujian dari bintang Miami Heat, LeBron James. Bagi Iverson, merupakan suatu kehormatan bisa mendapat pujian dari pemain sekelas James, yang kini telah mengantongi empat gelar NBA Most Valuable Player (MVP).

James pernah mengatakan bahwa Iverson merupakan pemain favoritnya setelah Michael Jordan. James mengungkapkan, ia sering menonton video Iverson dan mengagumi semangatnya saat bermain basket.

"Ini sebuah kehormatan untuk saya. Bagi saya, dia (James) juga merupakan pemain favorit. Dia mendapat empat kali gelar MVP dan itu luar biasa," kata Iverson saat ditemui di Hotel Century, Kamis (24/10/2013).

"Saya dekat dengan dia secara personal. Dia pria yang sangat baik, saya juga kenal dengan keluarganya. Mendapat pujian darinya merupakan suatu kebanggaan untuk saya dan membuat saya lebih mengaguminya," tambah Iverson.

Saat ditanya prediksinya mengenai tim yang akan memenangi NBA musim ini, Iverson menolak untuk menyebutkan satu tim. Iverson mengaku tak hanya dekat dengan James, ia memiliki banyak teman dari banyak tim di NBA dan tak ingin berat sebelah.

"Saya memiliki banyak teman dekat dan tidak ingin memprediksi siapa yang akan memenangi NBA musim ini. Mereka hebat-hebat dan saya yakin mereka bisa memberikan yang terbaik untuk tim masing-masing. Saya hanya ingin menonton dan menikmati permainan mereka," tutup Iverson.




Editor : Pipit Puspita Rini















8:53 PM | 0 komentar | Read More

Basuki: Kalau Ada Pejabat Main-main Sekarang, Ya Gendeng






JAKARTA, KOMPAS.com
- Sebanyak kurang lebih sepuluh pegawai negeri sipil (PNS) DKI telah ditetapkan sebagai tersangka atas tindak penyalahgunaan anggaran. Menanggapi hal itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama meminta para PNS DKI hingga pejabat DKI untuk tidak memainkan anggaran.


"Makanya mereka kalau mau "main-main" sekarang, ya gendeng aja," kata Basuki di Balaikota Jakarta, Kamis (24/10/2013).


Untuk mencegah tindak penyalahgunaan anggaran kembali, Pemprov DKI pun telah menggandeng berbagai lembaga pengawas keuangan. Misalnya, Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), dan Indonesia Corruption Watch (ICW).

Adapun kerjasama Pemprov DKI dengan BPKP adalah menempatkan sebanyak 50 pengawas dari BPKP di DKI. Sementara kerjasama dengan BPK, Pemprov DKI akan menerapkan sistem non cash transaction (NCT). Melalui sistem tersebut, transaksi antara pihak Pemprov dan rekanan atau pihak ketiga tidak lagi dilakukan secara langsung, tetapi wajib bertransaksi dari bank ke bank. Hal ini juga berlaku bagi pihak ketiga yang membelanjakan uang itu.


Di tahun 2014, Pemprov DKI juga akan menerapkan sistem e-budgeting. Begitu ada e-budgeting, kata dia, hanya Gubernur dan pihak otoritas tertentu yang memiliki password dan bisa mengubah anggaran. Apabila ada yang tidak setuju dengan sistem itu, maka pihak itulah yang merupakan "pemain anggaran".

Hingga saat ini, kata dia, DPRD DKI masih belum membahas sistem e-budgeting. "Kalau masih main kan gendeng aja. Mereka semua akan mendampingi terus, biar Jakarta bisa jadi model supaya lebih transparan," ujar Basuki.


Rencananya, Pemprov DKI Jakarta akan menjadi barometer provinsi zero corruption atau bebas korupsi. Para lembaga pengawas keuangan itu mengharapkan DKI Jakarta dapat menjadi contoh bagi kota lainnya. Terlebih setelah DKI dipimpin oleh pemimpin yang menurut Basuki mendukung pemberantasan korupsi.





Editor : Ana Shofiana Syatiri


















8:29 PM | 0 komentar | Read More

Djaduk Ferianto: Tradisi Tidak Mandek!





Catatan Kaki Jodhi Yudono

Perawakannya tinggi besar, dengan misai dan cambang di wajahnya. Bima, barangkali tokoh yang tepat untuk menggambarkan sosoknya, juga karakternya. Sebab, dia pun seperti Bima yang bicara apa adanya dan suka melabrak ketidakadilan. Misalnya, saat para pemain gamelan
yang dibawanya ke sebuah acara manggung dengan para pemain musik diatonis. Maka hal pertama yang ditanyakan Djaduk kepada penyelenggara adalah, berapa honor yang diterima oleh para pengrawit. "Mereka harus menerima honor yang sama dengan para pemain orkes. Kalau tidak sama, ya lebih baik nggak ussh main."

Hal kedua, panitia harus memperlakukan para pemain gamelan sama dengan para pemain orkes. "Kalau pemain orkes check sound, para penggamel juga punya hak yang sama untuk check sound."

Menurut Djaduk, yang dilakukannya itu adalah hal yang wajar saja, agar seniman tradisional diperlakukan secara adil.

Ditemui di studionya di Desa Kasihan Bantul, Djaduk hangat menyambut tetamunya. Tanpa ditanya, dia mulai bercerita bahwa Padepokan Tari Bagong Kusudiardjo yang ditinggalkan ayahnya, sekarang sudah berganti fungsi, tidak hanya untuk latihan menari, tapi justru untuk
berbagai kegiatan yang bermuara pada budaya dan kemanusiaan. Itulah sebabnya,  di salah satu ruangan yang ada di tempat tersebut, dipergunakan untuk workshop dari berbagai instansi maupun institusi yang berharap dapat discharge kembali sehingga bisa lebih terbuka pikiran dan hatinya untuk menyadari kemampuan dan kelebihannya sebagai manusia.

Seperti tempat yang diwariskan oleh sang ayah, Bagong Koesoediardjo, yang kini telah meluas fungsinya, Djaduk pun menganggap dirinya sebagai seniman yang multidimensi. Dia bukan hanya berkutat dengan urusan musik saja, melainkan juga berurusan dengan penyutradaraan,
keaktoran, pendidikan, dan lain-lain.

Saat ditanya, termasuk jenis seniman apakah dirinya, Djaduk menjawab, bahwa dia lebih bangga menyebut dirinya sebagai pekerja seni. “Kalau kita ngomong seniman bukankah lebih baik sesuai bahasa internasional menyebut sebagai artist ya? Sementara di Indonesia artis itu kan bisa dikategorikan selebritis yang masuk infotainment itu lho. Kalo seniman di kalangan masyarakat Indonesia itu masih orang yang dianggap orangnya itu 'seenaknya sendiri'..tidak dianggap, tapi kalau sesungguhnya esensinya dia itu sebagai pekerja, maka saya lebih seneng menyebut diri saya sebagai pekerja seni.

Menurut Djaduk, sebagai pekerja seni orientasinya tidak hanya terpaku pada satu seni saja. Sebab menurutnya, seni itu saling terkait dengan faktor lainnya. Djaduk pun mnyebut profesi dalang sebagai contoh. Dalang itu menguasai sastra, menguasai teater, menguasai seni rupa dan manajemen pertunjukan. Demikian juga petani,  juga sangat multi. Petani tahu tentang waktu, menghitung waktu., dia tahu bagaimana berhubungan dengan alam, dia tahu tentang perekonomian, dia tahu apa yang baru laku.

“Justru kalau kita sekarang bicara tentang kearifan lokal, dulu leluhur kita sudah mengajarkan begitu. Ini pekerjaan seni, maka kami menjunjung tinggi apa yang pernah didapatkan oleh orang tua kami, atau mungkin kakek-kakek kami, leluhur kami, dan kami teruskan. Tetapi dengan kesadaran penuh bahwa sebagai pelaku seni..pekerja seni kami bekerja secara menyeluruh,” tutur lelaki kelahiran Yogyakarta, 19 Juli 1964 ini.

Djaduk memberi contoh konkret tentang bekerja sebagai seorang pekerja seni yang multidimensi itu. Djaduk yang awalnya sebagai penari serta pernah belajar tari jazz dan balad di Eropa, pada akhirnya harus bersinggungan dengan bidang musik sebagai pendukung tarian.

Pengaruh keluarga, terutama ayah, yang menyebabkan Djaduk mengenal seni tari, sebelum akhirnya berkenalan dengan gamelan. Nah, saat mengenal gamelan itulah, Djaduk lebih tertarik pada instrumen kendang yang menurutnya sebuah instrument yang berfungsi sebagai pengendali irama.

“Dan kaitannya antara kendang dengan dunia gamelan, dan hubungannya dengan tari ya itu kan relasinya sangat kuat. Jadi ketika saya menjadi penari, saya juga sebagai pemain kendang, itu semua hafalan ada dalam otak saya, menciptakan irama, menciptakan melodi, menciptakan dinamikanya..itu pekerjaan yang paralel. Di samping untuk tari juga untuk teater, ketoprak, teater tradisional, untuk wayang,” papar anak bungsu dari Bagong Kussudiardja, koreografer dan pelukis senior Indonesia yang telah marhum.

Seiring dengan bergulirnya waktu, semakin banyak bidang kesenian yang digeluti Djaduk. Dia pun mulai melukis, mendesain kostum pemain musiknya, kemudian membuat musik di luar tari, termasuk bersinggungan dengan budaya popular.

Djaduk menyebut, awal dirinya bersinggung dengan dunia pop diawali pada tahun 1978, saat dirinya mengikuti Lomba Musik Humor di Jakarta dengan kelompok musik yang didirikannya bernama Rheze. Kala itu pesertanya dari seluruh Indonesia, termasuk Iwan Fals. Dalam lomba tersebut Djaduk menang. "Itu generasinya Iwan Fals, kami nomor satu sedangkan Iwan Fals malah ada di bawah kami, kalau tidak salah Juara Harapan 2. Nah, dari situ lah kemudian kami
berkembang meng-compose beberapa musik sendiri pada sekitar tahun 70-an sampai 80-an. Akhirnya sampai sekarang. Jadi ruang pekerjaan saya itu, di samping musik; ada teater, menjadi koreografer, membuat desain kostum. Sementara sekolah formal saya adalah Seni Rupa. Sekarang saya menjadi penggagas sebuah event dan punya beberapa ruang di festival seperti Ngayogjazz, Jazz Gunung, kemudian ada yang berskala dunia dan punya jaringan ke internasional, tetapi semua saya meyakini basik saya adalah tradisi. Kami melihat potensi yang
luar biasa di tradisi itu, hanya memang persoalan yang muncul adalah tarik-ulur. Kami mempercayai tradisi kan selalu berkembang, jadi kami sangat membuka diri pada tradisi, karena kami juga tidak mau terkungkung dalam tradisi. Kami akhirnya bergaul dengan
tradisi-tradisi lain untuk menjawab suatu tantangan. Kami harus mengembangkan tradisi itu, yang tidak ada harus kita bangun yang baru, yang sudah tidak zamannya kita buang."

Meski telah bersinggungan dengan dunia pop dan berhubungan dengan manusia-manusia dari berbagai bangsa, Djaduk menganggap dirinya tetap menjunjung tinggi tradisi dalam pengertian tiap kaum dan zaman memiliki tradisinya masing-masing. Baginya, salah satu yang paling
menarik dari tradisi adalah “semangat”, betapa tradisi itu selalu up-to-date pada zamannya, setiap zaman semangat tradisi itu akan selalu ada dan tidak bisa hilang. “Saya sulit untuk menjelaskan ‘semangat’ itu seperti apa, tapi kami mempercayai dalam tradisi kami, semangat itu menjiwai kami..mendorong kami sebagai pelaku seni untuk memiliki bargaining position kepada tradisi yang lain. Artinya, dulu pada awalnya kami introvert, orang tradisi bertemu dengan orang pop itu kan ragu-ragu, bertemu anak-anak jazz juga ragu-ragu. Tapi lama-lama itu terbangun, dan bahwa dengan semangat tradisi ini mereka juga memilikinya. Terkadang, kami juga melihat anak-anak jazz itu sebagai anak-anak tradisi, bahkan akhir-akhir ini juga sekitar 10 tahun terakhir ini pun anak-anak yang lahir dari budaya populer itu juga sebenarnya anak-anak tradisi. Maka kami sebagai orang-orang tradisi berani mengatakan bahwa anak-anak yang lahir dalam konteks budaya populer itu juga bagian dari tradisi.”

Djaduk menambahkan, bahwa budaya pop itu menciptakan tradisinya sendiri. Kecurigaan seseorang yang dulu masih malu mengatakan bahwa pop culture itu bukan bagian dari tradisi itu karena berpendapat bahwa pop culture dianggap mewakili industri, padahal mereka lupa bahwa mereka sendiri juga pernah mencicipi budaya populer pada zamannya. "Saya pribadi berani mengatakan bahwa anak-anak yang lahir pada generasi ini adalah bagian dari tradisi karena mereka sedang menciptakan tradisinya. Budaya populer (pop culture) adalah bagian dari
budaya."

Djaduk pun percaya, bahwa tradisi itu sendiri terus bergerak. Dan kita seyogyanya memberikan ruang bagi anak-anak muda untuk melahirkan tradisinya sendiri. Jangan mentang-mentang kita orang tua, anak-anak muda itu harus mengikuti tradisi kita. Bukankah kita sendiri pun pernah menggugat tradisi orang tua kita? Orang tua yang mengeritik kita padahal dulu mereka pernah muda, pernah nakal, pernah kurang ajar. "Nah kan dalam 'teks buku' itu kami sudah tidak percaya lagi pada 'teks' itu karena hanya merupakan sebuah tanda catatan sebuah periode yang selalu berkembang. Kami lahir dalam budaya Jawa, Budaya Gamelan, setelah kami pelajari Gamelan yang ada saat ini itu melalui proses yang cukup lama dan selalu berubah. Pertanyaannya adalah 'Kenapa anak sekarang tidak boleh mengubah?'" tutur Djaduk.

Karena kesadaran untuk tidak terpaku pada satu tradisi itulah, ada jargon yang selalu dilawan oleh Djaduk, yaitu 'Adiluhung', "Jargon-jargon seperti itu selalu saya dobrak karena bersifat abstrak. Setiap orang mengatakan Adiluhung. Bahkan ada pernyataan yang cukup gegabah oleh orang-orang tua yang bahkan sudah memiliki gelar professor bahwa 'Anak-anak muda zaman sekarang tidak concern pada tradisi', yang disalahkan anak muda. Pernyataan seperti itu langsung saya lawan, Salah! Bapak pernah muda? Anak muda itu baru menciptakan tradisinya sendiri.”

Menurut Djaduk, kita memang harus belajar dari masa lalu, tapi kita kembangkan untuk kepentingan ke depannya. Masa lalu sebagai sebuah referensi. Oleh karena itu, Djaduk menandaskan, sudah saatnya para orang tua jangan terus-terusan bercuriga kepada anak muda dan menuduhnya bahwa anak muda selalu merusak tradisi. "Mendengar hal tersebut saya biasanya akan melawan. 'Eh, Anda juga merusak lho, Pak'. Sebagai contoh, gamelan bali yang ada sekarang itu disebut Gong Kebyar, itu baru ada sekitar tahun 50-an, sekarang berkembang ada Smaradhana dan lain-lain. Dalam Gamelan Jawa, instrumen Rebab itu kan tidak lahir dari rumpun instrumen bunyi yang dari perunggu karena dia adalah instrumen bunyi yang digesek. Kalau kita tarik sejarahnya mulai dari awal hingga mendapatkan posisi paling depan dalam
pementasan itu hanya sekitar dua abad lalu. Hal tersebut membuktikan bahwa Gamelan juga terus berkembang. Ada yang bilang bahwa, gamelan yang sekarang adalah yang paling benar, itu salah karena dalam Keraton sendiri Gamelan Majapahit ada beberapa versi, Yogya dan Solo masing-masing memilikinya. Apa yang dilakukan oleh alm. Sapto Raharjo, yaitu mengkolaborasikan gamelan dengan synthetizer itu bagian dari tradisi."

Terkadang, orang-orang tua itu melihatnya hanya berdasarkan kacamata dirinya sendiri. Padahal, ujar Djaduk, sebagai manusia pada zamannya harus terus mengisi dan mengembangkan terus, Jika tradisi ada yang hilang, menurut Djaduk tidak apa-apa, itu adalah sebuah keniscayaan. "Terkadang ada yang mengatakan bahwa, 'Nanti hilang kesenian kita yang Adiluhung', itu abstrak, yang sudah hilang ya biarkan saja. Kami percaya dalam sebuah kebudayaan itu selalu ada yang hilang dan tetap tumbuh dan berkembang, tradisi adalah bagian yang selalu berkembang. Cara kita berkomunikasi juga terus berubah, itu lah yang dikatakan bahwa cara berpikir kita seharusnya tidak one track, saya mengutip ucapan Slamet Raharjo 'kalau berbicara itu jangan one track, tetapi two track, four track, selebar mungkin'. Nah, di ranah kebudayaan memungkinkan kita untuk melebarkan cara pandang kita, pergaulan kita, sehingga tidak terperangkap dalam dunianya sehingga tidak sentimentil. Biasanya karena kemampuan intelektualnya dan referensinya kurang, yang muncul adalah perasaan sentimentil itu saja bahkan sampai sentimentil kedaerahan yang muncul. Kami orang Yogya dan lahir di Yogya, Yogya itu ada bukan karena hanya ada orang Yogya, tapi karena ada Papua, Sumatera, dan seluruh wilayah lain di Indonesia. Keistimewaan budaya Yogya juga karena kami membuka diri untuk berani dikritik dan berani untuk mengakui bahwa ada yang hilang dan terus tumbuh sebagaimana pada zamannya. Para pekerja seni saat ini dapat lebih memaksimalkan gagasan idenya yang berangkat dari semangat tradisi sehingga tidak terperangkap dalam suatu isme, bahwa anak perupa dapat pula membuat suatu koreografi, bisa membuat musik, atau teater."

Lantaran tabiat seni yang terus bergerak itulah, menurut Djaduk, sebagai pekerja seni ia harus merawat kegelisahannya untuk melahirkan gagasan-gagasan yang lebih baru, seperti yang diajarkan oleh ayahnya di padepokan bahwa “Seni adalah Media”. Manusia memiliki sensitivitas atau kepekaan-kepekaan, itulah yang harus diasah dengan semangat tradisinya. Modernitas bukanlah suatu hal yang menakutkan karena kita juga harus masuk ke sana, seperti masuk hutan belantara yang harus dinikmati.

Untuk soal ini, Djaduk merasa beruntung hidup di Yogya. Budaya di Yogya menurutnya lebih nyaman, baratnya kota ini ngerumpi beberapa meter saja sudah terdengar dan Yogya masih memungkinkan untuk membangun jaringan dengan siapa saja. "Nah, pengalaman-pengalaman ini yang membentuk pada pilihan saya ketika pada tahun 80-an dan 90-an banyak yang menawarkan Saya secara pribadi untuk tinggal di Jakarta, saya menjawab, 'Saya tidak mau tingal di Jakarta'. Kalau dihitung secara ekonomi, Saya bisa mendapat keuntungan yang banyak di Jakarta tapi Saya tidak mau dan ingin tetap tinggal di Yogya."

Terbukti kini, sebagai seorang pekerja seni, Djaduk memang sangat produktif. Dari tangannya lahir banyak karya dan juga kelompok seni. Awalnya, Djaduk membentuk kelompok bernama Kua Etnika yang basiknya adalah musik etnik. Komposisi musik pada Kua Etnika menggunakan
'Perjuangan Estetika', yang berangkat dari ranah tradisi ditambah “warna” musik lain, bersifat kontemporer. "Ini adalah suatu gagasan besar yang ideal. Lalu kami belajar dari perusahaan seperti The Coca-Cola Company, bahwa dari suatu perusahaan itu memiliki berbagai varian seperti Coca-Cola, Fanta, dan Sprite. Di perusahaan lain pun juga sama, bahkan untuk rokok dari sebuah perusahaan bisa membuat beberapa macam varian. Dari situ kami belajar bahwa untuk terus menghidupi Kua Etnika jika hanya mengandalkan terus musik etnik maka tidak akan bisa bertahan, untuk itu kita harus membentuk kelompok baru yang bisa menghidupi Kuetnika, yaitu Sinten Remen."

Dengan Orang-orang sama, Djaduk pun mendirikan Orkes Keroncong Sinten Remen. Kenapa keroncong? Karena pada saat itu sekitar tahun 83 Djaduk masih di kampus, dunia keroncong benar-benar dijauhi. Pada saat itu penikmatnya hanya dari kalangan orang-orang tua saja.  

"Saat Saya masuk ke Sekolah Seni yang sungguhan, nama kelompoknya adalah Sukarmaju, ya benar-benar tidak maju (Sukar=Sulit). Kemudian kami membeli KTB, pada perjalanan itu kemudian menentukan kami mendirikan Sinten Remen, ini merupakan sebuah kelompok yang lebih bersifat komersil. Lagu-lagu yang dibawakannya ringan, komunikatif, juga merevolusi tema-tema di dalam keroncong yang tadinya hanya bicara soal keindahan tapi kami berani bicara soal kritik sosial, musik humor untuk menghibur orang. Hingga saat ini Sinten Remen sudah memiliki 7 album kalau tidak salah. Jadi Sinten Remen mencari uang untuk bisa menghidupi Kua Etnika, orang-orangnya juga sama. Ketika kami bergaul dengan dunia broadcast, kami membentuk kelompok baru yang memiliki basic dangdut yang bernama Orkes Melayu Banter Banget."

Ekspresi Djaduk di jalur dangdut pun mendapat jalan. Pada waktu Djaduk membuat acara mingguan di RCTI berjudul "Senggal-Senggol". Dari situlah kemudian dangdut mulai ada warna etniknya, warna jazzy-nya, dan ada juga dangdut kelas kampung atau kelas gardu ronda. Kemudian berkembang hingga booming dangdut di RCTI ada acara joget, "Dua tahun kami membuat format acara itu akhirnya jadilah. Dalam dangdut pun kemudian berubah tatanan aransemennya. Waktu saya datang untuk acara Anugerah Dangdut pertama itu tidak beda seperti Kua Etnika mengiringi Dua Warna, kami bergaul di dalam pop culture itu sehingga menemukan formulanya dan kemudian berkembang ke mana-mana. Akhirnya itu lah yang membuat kami kembali pada tradisi kami dan kami kemudian mengkomunikasikannya pada orang-orang di lingkungan kami, bahwa Kami nggak boleh introvert. Contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari adalah orang-orang tradisi itu kalau makan pasti bersama-sama karena
kurang PD, introvert. Contoh lain adalah saat menentukan honor, kalau saya antara pemain bass dan pemain gong mendapat honor yang sama karena memiliki peran yang sama, saya lalu menambahkan “Saya menghargai Kamu sebagai pemain Gong karena Kamu belajarnya juga lama sama seperti mereka. Nah, setelah ini Kamu juga harus menunjukkan kualitas Kamu selain permainan Kamu harus bagus, Kamu juga harus bertanggung jawab pada penampilan Kamu dalam arti intelektual Kamu juga harus berkembang”.

Meski telah memiliki nama besar di dunia kesenian, Djaduk tetaplah orang Yogyakarta yang sederhana, lengkap dengan banyolan-banyolannya. Hari-harinya dijalani dengan semangat tradisi yang terus bergerak. Dan Djaduk, sangat menikmatinya.

Filmografi

-Petualangan Sherina (2000)
-Koper (2006)
-Jagad X Code (2009)
-Cewek Saweran (2011)

Diskografi

-Orkes Sumpeg Nang Ning Nong (bersama Kua Etnika,1997)
-Ritus Swara (bersama Kua Etnika, 2000)
-Parodi Iklan (bersama Orkes Sinten Remen, 2000)
-Komedi Putar (bersama Orkes Sinten Remen, 2002)
-Janji Palsu (bersama Orkes Sinten Remen, 2003)
-Maling Budiman (bersama Orkes Sinten Remen, 2006)
-Dia Sumber Gembiraku (Lagu Rohani, 2006)
-Pata Java (bersama Kua Etnika dan Pata Master Jerman)

Penghargaan

-Pemusik Kreatif 1996 (PWI Yogyakarta)
-Piala Vidia sebagai Penata Musik Terbaik 1995 (Festival Sinetron Indonesia)
-Grand Prize 2000 (Unesco)

@JodhiY




Editor : Jodhi Yudono


















8:10 PM | 0 komentar | Read More

Ayu Ting Ting Tak Pedulikan Kondisi Suami


Jakarta - Kabar keretakan hubungan suami istri antara pedangdut AYu Ting Ting dan Enji kini kian menguat. Meski selama ini pelantun lagu "Salah Alamat" ini terkesan menutup-nutupi keadaan rumah tangganya namun kali ini Ayu mengaku sudah tidak mau perduli lagi dengan kondisi sang suami.


Bahkan Ayu kini mulai acuh bila sang suami tengah digosipkan dekat dengan wanita lain saat Enji menggelar balapan di suatu tempat dengan wanita lain beberapa waktu lalu.


"Masa? Ya Allah, asyik kali yah? Saya kira dia (Enji) takut sama media makanya gak muncul-muncul," ungkap Ayu Ting Ting saat ditemui di Studio RCTI, Kebon Jeruk Jakarta Barat, Kamis (24/10).


Ayu sendiri mengaku tidak diajak oleh sang suami saat Enji menggelar balapan. Bahkan Ayu mencibir bahwa yang diajak kemungkinan adalah wanita lainnya.


"Teteh lain kali yah yang diajak. Kalau teteh yang ini (Ayu) sama anak saya mah lagi sibuk kerja, nyanyi nyari uang," lanjutnya.


Meski mengaku tak diajak sang suami, Ayu kini memilih cuek dan ambil pusing dengan kondisi ini. Pelantun lagu "Sik Asik" itu kini tengah fokus merawat janin yang ada dalam kandungannya.


"Sekarang mah yang penting akunya sehat dan bayi yang dalam kandunganku juga sehat. Aku nggak mau banyak pikiran, biar yang didalam sehat juga," tutur Ayu.


8:07 PM | 0 komentar | Read More

Subhan Aksa Tak Gentar Hadapi Lintasan Reli Spanyol

Written By Luthfie fadhillah on Wednesday, October 23, 2013 | 8:53 PM





SALOU, KOMPAS.com - Pereli Indonesia, Subhan "Ubang" Aksa telah mendarat di Spanyol untuk mengikuti RACC Rally Spanyol yang akan dimulai di Salou, Jumat (25/10/2013) malam waktu setempat. Bersama navigator Nicola Arena dan kru Bosowa Fastron Rally Team (FBRT), Ubang melakukan survei lintasan, Selasa hingga Kamis mendatang.

Ubang memang perlu persiapan matang untuk menghadapi kompetisi WRC-2 ini. Meski tahun lalu mengikuti event sama di PWRC, persiapan yang dilakukan Ubang berbeda. Selain berganti navigator, waktu lomba dan beberapa rute juga mengalami perubahan. Misalnya saja, pada hari pertama seluruh special stage (SS) berlangsung malam hari.

“Sebagian besar masih di lokasi tahun lalu. Rasanya sih tak terlalu bermasalah,” ujar Ubang melalui rilis yang diterima Kompas.com. “Tapi, pendekatannya yang harus berbeda. Driving style-nya juga harus berbeda karena kita akan reli dengan kondisi enggak bakal ada yang kelihatan. Inilah yang ingin kami perdalam dalam sesi recce (survei lintasan).”

Tantangan lain adalah karakter lintasan yang memang paling unik di antara 13 ronde kejuaraan dunia musim ini. Ada lintasan dengan aspal mulus dan lebar, namun ada pula lintasan berliku dan naik turun dengan jalan berbatu. Perbedaan karakter ini menjadi tantangan tersendiri untuk para pereli.

"Mengejar posisi podium seperti tahun lalu mungkin sulit karena lawan yang dihadapi jauh berbeda, tapi kemungkinan itu selalu ada. Yang penting fokus sepanjang balapan karena mobil sangat potensial melintir karena trek licin. Yah, setidaknya kami berharap finish dengan poin,” papar Ubang yang tahun lalu finis podium ketiga di kelas PWRC.




Editor : Pipit Puspita Rini















8:53 PM | 0 komentar | Read More

Dugaan Korupsi Kasudin Tata Ruang Jaksel Terkait Laporan PPATK





JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengatakan, informasi tentang kasus dugaan korupsi perizinan oleh Kepala Suku Dinas Tata Ruang Jakarta Selatan berinisial RS diperoleh berdasarkan laporan Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Basuki telah menginstruksikan kepada Kepala Dinas Tata Ruang DKI Gamal Sinurat untuk mengganti posisi RS.


Menurut Basuki, penetapan RS jadi tersangka tidak berhubungan dengan permasalahan tata ruang Jakarta. Ia menduga penangkapan itu terjadi karena tindak pencucian uang atau money laundering.


"Ini ada hubungannya dengan laporan PPATK. Tidak ada hubungannya dengan tata ruang sebenarnya," kata Basuki di Balaikota Jakarta, Rabu (23/10/2013).


Sebelumnya, Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung Setia Untung Arimuladi mengatakan bahwa RS diduga telah mengutip biaya pengurusan izin-izin yang besarannya tidak sesuai dengan tarif resmi yang telah ditetapkan. Menurut Setia, RS diduga telah menerima uang pengurusan izin dengan besaran bervariasi antara Rp 225 juta dan Rp 700 juta untuk setiap perizinan. RS diduga telah melakukan tindak pidana korupsi hingga Rp 1,89 miliar.


Saat melakukan tindak korupsi tersebut, RS belum menjabat sebagai Kasudin Tata Ruang Jaksel, tetapi sebagai Kasie Tata Ruang Kecamatan Tebet dan Staf Tata Usaha Suku Dinas Tata Ruang.   Dalam kasus ini, RS dijerat Pasal 12 huruf a atau b Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto UU Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 64 Ayat (1) KUHP.





Editor : Laksono Hari Wiwoho
















8:29 PM | 0 komentar | Read More

Presiden Harus Jelaskan Soal 2 Versi Perppu MK






JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) diminta menjelaskan keberadaan dua versi Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2013 tentang Perubahan Kedua atas UU Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (Perppu MK). Hal ini dinilai dapat menimbulkan kebingungan.

Demikian disampaikan Robikin Emhas, salah satu pengacara dalam Forum Pengacara Konstitusi, yang menggugat Perppu MK, hari ini (Rabu, 23/10/2013). "Presiden harus klarifikasi soal adanya dua versi Perppu MK ini, yang mana yang benar?" kata Robikin saat menyampaikan permohonan gugatannya.

Akibat dua versi perppu yang berbeda, Robikin kebingungan saat akan menyampaikan permohonan gugatannya. Mereka bingung perppu versi yang mana yang akan mereka masukkan ke dalam gugatan. "Akhirnya kami lampirkan saja dua-duanya," kata Robikin.

Hal serupa disampaikan Anggota Forum Pengacara Konstitusi lainnya, Andi M Asru. Menurutnya, pemerintah harus bertanggung jawab atas beredarnya dua versi perppu.

Dia sangat menyayangkan pengajuan permohonan gugatannya membuat MK bingung karena keberadaan dua versi perppu. Oleh karena itu, Andi berharap pemerintah dapat menjelaskan persoalan ini sebelum tuntutan mereka diproses dalam persidangan nanti.

Seperti diberitakan, salinan perppu yang diperoleh MK memang berbeda dengan Perppu yang diperoleh wartawan dari Wakil Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Wamenhuk dan HAM) Denny Indrayana. Perppu MK versi Denny, pada poin menimbang hurub b, berbunyi: “Bahwa untuk menyelamatkan demokrasi dan negara hukum Indonesia, serta untuk mengembalikan kepercayaan publik terhadap Mahkamah Konstitusi sebagai lembaga negara yang menjalankan fungsi menegakkan Undang-Undang Dasar, akibat adanya kemerosotan integritas dan kepribadian yang tercela dari hakim konstitusi, perlu dilakukan perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi.”

Namun pada Perppu yang diterima MK, tidak terdapat kalimat “ akibat adanya kemerosotan integritas dan kepribadian yang tercela dari hakim konstitusi”.




Editor : Hindra Liauw


















8:10 PM | 0 komentar | Read More

"Merry Go Round," Berputar atau Keluar dari Jerat Narkoba


Jakarta - Seperti apa efek buruk dari penyalahgunaan narkoba? Bagaimana kebiasaan dan tipu daya para pecandu, serta cara mereka mempengaruhi dan menulari sakitnya pada orang terdekat?


Semua itu bisa Anda temukan di film terbaru besutan sutradara Nanang Istiabudi berjudul Merry Go Round.


Film berdurasi 100 menit ini dibintangi oleh Poppy Sovia, Tya Arifin, Bucek Deep, Dewi Irawan, Ray Sahetapy, Hengky Tornado, Reza The Groove, JE Sebastian, Dwi AP, Giliano M Lio, Christoper, dan masih banyak lagi.


Merry Go Round sendiri dibuat berdasarkan kisah nyata dari para korban penyalahgunaan narkoba dan keadaan keluarganya.


Dikisahkan Dewo, seorang pemuda dari keluarga berada yang terpaksa drop out dari kuliahnya di luar negeri dan sudah jadi pecandu saat kuliah.


Bersama Arman dan Rama, mereka terbuai memasuki permainan yang tak berhenti berputar bagai sebuah Merry Go Round.


Prilaku buruk Dewo ini akhirnya berdampak langsung pada Tasya, adik perempuannya yang memang rentan dan tak banyak tahu tentang dunia penuh kamuflase itu. Seperti kakaknya, Tasya kemudian juga mulai mengonsumsi obat-obatan terlarang itu.


Akibat sudah ketergantungan narkoba, Dewo bahkan tega menjual adiknya agar dapat membeli barang-barang haram tersebut. Untunglah ada Andika yang menyelamatkan Tasya dari persitiwa tersebut.


Di sinilah cinta antara Tasya dengan Andika bermula. Namun kehidupan cinta mereka tidak berjalan dengan mulus. Latar belakang Andika yang hanya penjual voucher handphone membuat orangtua Tasya menentang keras hubungan ini.


Dewo sendiri menempatkan diri sebagai lelaki yang dikalahkan sistem, penyangkal dan pembohong besar. Dia hanya bisa menyalahkan keadaan sambil terus asik menikmati apa yang memang sudah jadi kebutuhannya.


Parahnya lagi, keluarganya tanpa sadar sudah ikut terlibat memelihara "penyakit menularnya" itu dengan merahasiakan penyakit yang mereka pikir begitu mudah diobati. Mereka ikut terbuai jadi si penyangkal dan mulai masuk menjadi suporter pasif dari anak-anak mereka yang penuh intrik.


Apa yang akhirnya terjadi pada Dewo dan Tasya? Akankah mereka bernasib sama seperti Arman yang mati over dosis? Bagaimana pula akhir dari kisah cinta Tasya dan Andika? Film Merry Go Round ini akan tayang di bioskop mulai 24 Oktober 2013.


8:07 PM | 0 komentar | Read More

DKI Kehilangan Pembina Olahraga

Written By Luthfie fadhillah on Tuesday, October 22, 2013 | 8:53 PM





JAKARTA, Kompas.com — Kusnan Ismukanto, tokoh pembina olahraga DKI Jakarta dan nasional meninggal dunia di Jakarta, Selasa (22/10/2013).

Kusnan meninggal dunia dalam usia 77 tahun di rumahnya di Jalan Cempaka Putih Timur 16 Nomor 2, jakarta Pusat.

Semasa hidupnya, Kusnan aktif dalam pembinaan olahraga di Jakarta. Ia pernah menjabat sebagai Wakil ketua KONI DKI Jakarta pada periode lalu. Saat ini ia menjabat sebagai anggota Dewan Kehormatan Koni Provinsi DKI Jakarta.

Kusnan jugalah yang aktif membawa DKI Jakarta menjadi juara umum dalam penyelenggaraan PON XVIII, Riau, September 2012 lalu. Saat itu  kontingen DKI berhasil meraih 110 medali emas dan mengatasi kontingen Jawa Barat dan Jawa Timur.

Ia juga pernah menjadi chef de mission kontingen Indonesia ke Paralimpik di Beijing pada 2008 lalu.

Selamat jalan, Pak Kusnan....




Editor : Tjahjo Sasongko















8:53 PM | 0 komentar | Read More

Pohon Tumbang di Pasar Minggu Hambat Perjalanan KRL





JAKARTA, KOMPAS.com - Kereta listrik komuter bernomor KA 583 dari Bogor tujuan Jakarta terhenti sebelum memasuki Stasiun Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (22/10/2013) sekitar pukul 18.30 WIB. Hal itu diakibatkan sebuah batang pohon asam yang tumbang saat terjadi hujan lebat disertai angin kencang yang menimpa kabel kawat listrik aliran atas di jalur Bogor arah Jakarta tersebut.


Firman (27), seorang penumpang KRL, mengatakan, ia mengetahui adanya pohon tumbang setelah KRL berhenti di tengah perjalanan dan dia turun untuk melihat situasi di sekitarnya. Ia menyebutkan, setelah KRL itu berhenti, tidak ada pemberitahuan kepada penumpang tentang adanya pohon tumbang. Firman yang menumpang kereta komuter Stasiun Bogor dengan tujuan ke Stasiun Kota harus menunggu petugas menyelesaikan pemotongan dahan pohon tersebut.


Sementara itu, masinis KRL yang tengah memantau upaya pemotongan menolak berkomentar saat ditanya seputar kejadian tersebut. Anggota Polsek Metro Pasar Minggu Aipda Mamay yang turut memantau di lokasi mengatakan, berdasarkan laporan dari warga setempat, dia mendapat laporan bahwa adanya pohon tumbang melintang pada kabel KRL. Polisi kemudian melaporkannya ke Suku Dinas Pertamanan Jakarta Selatan untuk melakukan pemotongan pohon. Menurutn Mamay, perjalanan KRL sengaja dihentikan untuk membantu pekerja menjangkau batang pohon asam yang tumbang dan berukuran cukup besar itu. Pemotongan pun dilakukan agar batang pohon tidak mengganggu lalu lintas kereta.


"Tumbangnya enggak ada kereta, pas hujan tadi. Jadi keretanya memang sengaja untuk pemotongan ini, untuk sandaran, biar mudah (memotong)," ujar Mamay.


Pantauan Kompas.com, banyak penumpang KRL yang turun dari kereta karena pintu kereta dibuka. Penumpang menanti dalam kondisi gelap. KRL kembali bergerak jalan sekitar pukul 18.50 WIB dan perjalanan pun kembali normal.





Editor : Laksono Hari Wiwoho
















8:29 PM | 0 komentar | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger